Pameran Iseng yang Penuh Makna

19 Oct

Pameran ”BIG”, Iseng yang Penuh Makna

Kata iseng dalam bahasa Bali berarti merasa sepi atau ingin melihat. Sementara kata “iseng” dalam bahasa Indonesia berarti merasa menganggur, berbuat sesuatu supaya jangan menganggur, tak mau menganggur, suka mengganggu, dan seterusnya. Dalam wacana seni visual, kata “iseng” mungkin akan diartikan berbeda-beda sesuai dengan konteksnya dan keinginan dari masing-masing perupa. Seperti “iseng” dari pergelaran pameran, “iseng” dari ukuran karya yang dibuat, dan sebagainya.

TERNYATA, kata “iseng” yang penuh makna, akhir-akhir ini telah dipakai oleh kelompok Perupa 16 yang pada 2-16 Maret 2003 ini memamerkan karya-karyanya di Taman Budaya Denpasar. Perupa 16 terdiri dari 15 pelukis yakni AA Ngurah Paramartha, Wayan Paramartha, I Made Oka, Wayan Muliasta, Vinsensius Dedy Reru, Made Romi Sukadana, Made Budi Adnyana, Ketut Lekkung Sugantika, Ni Nyoman Sani, Ketut Teja Astawa, Sudarmadi, Made Dolar Astawa, Ida Bagus Putu Purwa, Wayan Apel Hendrawan dan Made Ardika.

Dalam satu ruang pameran, masing-masing pelukis hanya memajang satu lukisan. Hal ini disesuaikan dengan temanya “BIG” (besar). Big atau besar yang dimaksud oleh perupa di sini adalah mempersiapkan dan memamerkan karya yang ditinjau dari segi kesamaan besar ukuran karyanya, yang mencapai 200 meter X 270 meter. Ide tema ini berawal dari “keisengan” mereka untuk menampilkan karya yang berukuran sama besarnya setiap pelukis.

Pameran ini merupakan yang kedua setelah pameran pertama di Gabrig Galleri Sanur, September 2002. Dalam pameran kali ini, yang menjadi permasalahan dalam Perupa 16 ini adalah, sampai kapan perupa ini akan bertahan untuk menerapkan tema big (ditinjau dari segi kesamaan besar ukuran yang akan dibuat) dalam sebuah pameran? Apakah di balik ide “keisengan” Perupa 16 ini masih mempertimbangkan keseriusan, dan makna apa yang terdapat di dalam karya-karya tersebut? Apakah hanya sekadar “iseng” untuk membebaskan dirinya dalam berkarya atau sekadar untuk mempopulerkan dirinya dalam pameran?

Dalam wacana seni visual kali ini, kata “iseng” hanya ditinjau dari segi kesamaan besar ukuran karya-karya yang dipamerkannya. Di balik “keisengan” itu, di dalam karya-karya tersebut terlihat keseriusan dalam mengembangkan seni lukis modern di Bali, adanya kebebasan dalam berkarya seni dan karya seni lukis tersebut penuh makna. Yaitu makna untuk menunjukkan mitologi Hindu atau ajaran agama Hindu yang terdapat dalam sastra-sastra Bali (Bhagawad Gita), untuk menunjukan kehidupan binatang, kehidupan anak-anak, kebebasan diri dari ikatan keduniawian, kehebatan dan kekuatan superman serta kekuatan maupun saktinya barong Bali.

Kebebasan, keseriusan, pemahaman terhadap objek, penuangan ide, perpaduan warna, komposisi warna, bentuk dan sebagainya adalah konsep dasar dalam karya seni visual. Sebagai pelukis akademis, Perupa 16 telah memakai konsep dasar tersebut. Akan tetapi ide dalam karya-karyanya terlalu miskin untuk diangkat dalam karya seni visual. Tema hanya merupakan tiruan belaka, kurang kreatif, seperti salah satu contoh karya yang berjudul “Gita Upanisad” dan “Pasar Salikur”. Terutama pada “Gita Upanisad”, itu sebuah karya seni tiruan atau jiplakan yang sebelumnya sudah dilukis di dalam sebuah buku Bhagawad Gita. Segi teknik, komposisi, bentuk dan warna yang diterapkan dalam karya seni lukis ini memiliki “kesamaan”, sehingga karya tersebut tidak berbobot dan tidak mengandung unsur kreativitas.

Sedangkan pada “Pasar Selikur”, masih terlalu terikat pada objeknya. Pada wujud yang ditampilkan, kurang adanya dialog di antara manusia satu dengan manusia yang lainnya. Semua wujud manusia dibuat menyendiri, seolah-olah suasana pasar tidak berkesan ramai. Suasana pasar hanya dilihat dari banyaknya barang dagangan yang dijual dan banyaknya sampah-sampah di sekitar pasar, tidak ada dialog antara penjual dengan pembeli. Akan tetapi dibalik keterikatan dan kurangnya dialog tersebut, terdapat kebebasan dalam penggunaan warna, komposisi dan sebagainya.

Pengaruh Warna
Kemudian lukisan yang lain, seperti karya yang berjudul “Journey of Life”, “Dua Dimensi”, “Musim Kawin”, “Suasana yang Berbeda”, “Gita Upanisad”, “Depresi”, “Menunggu” dan Superman yang berada di atas Vespa masih kuat dipengaruhi warna-warna Bali yang umum dipakai dalam upacara di Bali seperti merah, hitam, putih, biru dan sebagainya. Kekuatan warna-warna Bali yang diterapkan dalam masing-masing lukisan oleh pelukis sendiri menunjukan identitas pelukis Bali yang tidak lepas dari tradisi dan kebudayaan Bali.

Bahkan di sisi lain, lukisan yang beranekaragam tema ini, tidak lupas dari pengaruh warna-warna yang sering diterapkan dalam karya seni lukis Barat. Pengaruh tersebut terdapat pada karya yang berjudul “Tanpa Sadar Kita” dan “Batman Belajar”. Dua karya lukis ini berambisi untuk membebaskan dirinya dari warna-warna Bali. Penerapkan warna tersebut disesuaikan dengan ide lukisan dan judul yang diangkat oleh kedua pelukis tersebut.

Pada karya Ni Nyoman Sani misalnya, kecenderungannya menampilkan tiga figur wanita yang bertubuh gemuk dan dilatarbelakangi adegan wanita bersama pria bertubuh ramping sedang berpelukan. Sedangkan karya I Ketut Teja Astawa lebih mementingkan bidang kosong yang menandakan ruang, kesederhanaan bentuk yang masih naif (kekanak-kanakan), warna-warnanya tidak terlalu kontras seperti putih, hijau, kuning oker, merah biru dan hitam yang membuat warna-warna tersebut menyebabkan berdiri sendiri. Di balik itu, terdapat kesatuan.

Di antara karya seni lukis ini, yang lebih menarik adalah karya Made Ardika. Ada kesan garis yang dimunculkan dengan menerapkan batang-batang korek api. Perpaduan antara bidang kanvas dengan penyusunan batang korek api tersebut juga berdasarkan imajinasi, kepekaan rasa dan berdasarkan pengalaman kreativitas pelukisnya.

* Made Bambang Oka

sumber

http://www.balipost.co.id/BALIPOSTCETAK/2003/3/9/g4.html

Advertisements
%d bloggers like this: